Lebaran kali ini berbeda, salah satu alasannya, Eyang terbaring sakit. Beliau sudah hampir sebulan ini terdiam, tidak berdaya, disokong dengan alat bantu untuk memacu-nya bernafas. Sekelumit alat-alat kedokteran yang asing, tabung oksigen, selang-selang yang menghubungkan organ tubuhnya untuk membantu Beliau mendapatkan asupan kehidupan. Beberapa lubang jarum ditusukan pada lengannya. Hal ini cukup membuat Beliau menjerit histeris kesakitan.
Kala kami datang, Beliau hanya dapat mengedipkan mata kemudian kembali terpejam. Hening dalam tidur yang melelahkan, membuat Beliau harus terus berjuang menahan kesakitan. Saya prihatin melihat Beliau. Ingin rasanya menitikan air mata ketika itu, namun Ayah berkata : “ ketika bertemu Eyang nanti, berikanlah senyuman agar beliau semangat”. Tidak ada alasan untuk tidak menaati wejangan Ayah sebelum akhirnya Saya melihat kondisi Eyang yang membuat Saya sesak. Saya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk Eyang! Ingin sekali rasanya mendengar keluhan Beliau. Namun, sekali lagi Saya harus mengatakan keinginan itu terlalu utopis, berbalik terhadap kondisi Eyang saat ini yang diam, terbaring letih. Akhirnya, Saya hanya bisa berbisik melafalkan dalam hati, mendoakan untuk kepulihan beliau.